Devotionals
Apakah Menikah adalah Sumber Kebahagiaan?
Menikah adalah satu hal yang diimpikan banyak orang. Mengapa? Karena ada satu motivasi dalam diri manusia untuk berpasangan dan hidup bersama. Mereka yakin dan berharap, bahwa menikah akan memberi kebahagiaan. Status sebagai single, sebaliknya, dianggap sebagai tanda hidup yang kurang lengkap, karena tidak memiliki pasangan.
Oleh karena itu, tidak jarang orang menjadi resah dan khawatir jika belum menemukan atau memiliki pasangan, karena jalan menuju pernikahan masih belum terbuka. Namun, benarkah menikah pasti akan membawa kebahagiaan? Sebaliknya, apakah menjadi single adalah tanda tidak bahagia?
Kehidupan Single Vs. Menikah
Lagu berjudul My heart will go on oleh Celine Dion adalah lagu kesukaan saat saya masih SMA. Padahal, saya tidak mengerti arti lirik lagu tersebut. Tetapi, lagu itu menggambarkan cinta yang amat dalam dari tokoh-tokoh dalam film Titanic. Film dan lagu titanic berhasil membius saya. Saya jadi memiliki angan-angan suatu hari akan menemukan cinta sejati dan menikah. Tapi untungnya saya tidak bermimpi untuk berdiri di bubungan paling atas sebuah kapal laut yang besar.
Saat saya berusia 28 tahun, muncul kekhawatiran tentang masa depan. Pada saat itu, saya merasa membutuhkan seorang teman hidup. Saya mulai memikirkan untuk mencari sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidup saya. Kemudian saya mencoba mengenal dan membangun persahabatan dengan lawan jenis, sampai akhirnya saya menemukan wanita yang tepat. Singkat cerita, kami menikah dan mulai membangun keluarga. Rasanya hidup terasa semakin lengkap ketika anak kami lahir.
Sampai di sini, saya berpikir bahwa hidup saya sudah bahagia. Sudah berpasangan, berkeluarga, dan memiliki anak. Apakah hal ini membuat saya merasa bahagia?
Awal-awal menikah, saya tak merasakannya. Saya merasa beban menjalani hidup saya. Ternyata menikah tidak seperti film romantis yang saya bayangkan. Ada begitu banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi saat sudah menikah. Waktu single, saya merasa begitu bebas. Saya bisa melakukan apapun yang saya suka. Saya bebas makan apa saja. Bangun dan tidur pada jam yang saya atur sendiri. Dan tentunya, saya tidak memiliki tanggung jawab kepada siapapun. Jika saya flashback ke masa lalu, saya merasa hidup single itu begitu indah, bebas, dan merdeka.
Setelah menikah, ada begitu banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus saya penuhi. Menikah ternyata tidak semudah itu. Berkeluarga berarti hidup bukan lagi untuk diri sendiri; sudah ada tanggung jawab kepada istri dan anak. Saya perlu bekerja, saya perlu peka terhadap kebutuhan pasangan, dan juga menyangkal diri demi keluarga. Namun, di sisi lain, saya juga bersyukur karena adanya pendamping di sisi saya, yang Tuhan tempatkan.
Oleh karena itu, muncul sebuah pertanyaan di benak saya. Apakah status orang menentukan kebahagiaannya? Apakah seseorang harus tetap single atau menikah, agar bisa bahagia?
Sumber Kebahagiaan Sejati
Melihat kepada firman Tuhan, tidak pernah tertulis bahwa kebahagiaan hanya bisa didapat ketika kita single atau menikah. Namun, Alkitab mencatat bahwa kebahagiaan dapat kita dapat dari hal-hal ini.
Matius 5:1-12 adalah serangkaian khotbah Yesus di bukit. Di sana disebutkan kriteria berbahagia menurut standar Tuhan, yaitu:
- berbahagia orang yang miskin di hadapan Allah
- berbahagia orang yang berdukacita
- berbahagia orang yang lapar dan haus akan kebenaran
- berbahagia orang yang murah hati dan suci hati
- berbahagia orang yang membawa damai
- berbahagia orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran
- berbahagia jika karena Aku, kamu dicela dan dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Mazmur 34:8
Untuk bisa merasa bahagia, kita perlu dapat melihat, merasa, dan mengalami bahwa Tuhan itu baik. Terlepas dari status kita, kita perlu mengingat lagi kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Bahagia adalah saat kita bisa meyakini bahwa Tuhan telah sangat baik dalam hidup kita dan saat kita berlindung kepada-Nya.
Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! – Mazmur 40:4
Rasa bahagia dapat kita rasakan ketika kita meletakkan rasa percaya kita kepada Tuhan. Single atau menikah tidak menjamin kita bahagia. Ketika kita berada di dalam kedua fase tersebut, ada kebahagiaan dan tantangannya masing-masing. Namun, kita mau menjalani kedua masa tersebut dengan keyakinan bahwa Tuhan itu baik, bahwa Tuhan yang memegang hidup kita, dan percaya penuh kepada-Nya.
Dengan begitu, di fase apapun dan manapun, baik single, menikah, punya anak, bahkan di masa tua pun, kita bisa terus merasa bahagia.
Kebahagiaan Saat Single dan Menikah
Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH. – Mazmur 71:5
Single dan menikah memiliki berkatnya masing-masing. Saat kita single, kita memiliki kebebasan melakukan apa saja dan berteman dengan siapa saja. Kita hidup bertanggung jawab untuk diri kita sendiri dan Tuhan.
Kita tidak perlu khawatir karena sendiri, karena ada Tuhan. Tuhan yang bersama kita. Mungkin kita memiliki kebutuhan akan teman hidup, namun jika kita bisa puas di dalam Tuhan, maka kita pasti dapat merasa bahagia. Ia adalah sumber harapan kita. Baik saat kita single atau menikah, Tuhan tetap adalah sumber harapan dan kebahagiaan kita.
Saat kita menikah, kita naik ke level yang berikutnya. Pernikahan ini Tuhan ciptakan, karena Ia melihat bahwa pernikahan itu baik dan manusia butuh partner hidup. Dikatakan dalam Kejadian 2:18, “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.””
Menikah akan menjadi sebuah berkat jika kita memilih pasangan yang sepadan dan seimbang. Namun, di balik berkat ini, ada tanggung jawab lebih yang perlu kita ambil. Karena itu, pernikahan adalah level berikutnya. Suami harus mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat dan istri harus tunduk kepada istri seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22-25).
Baik single maupun menikah punya kebahagiaan dan berkatnya masing-masing. Yang paling penting adalah, apapun fase hidup kita, kita hidup di dalam Tuhan. Jika Anda single, jadilah single yang takut akan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan. Dengan begitu Anda akan berbahagia.
Saat Anda menikah, jadilah suami atau istri yang takut akan Tuhan, yang melakukan perannya masing-masing sesuai firman Tuhan, dengan begitu Anda akan memiliki kehidupan pernikahan yang berbahagia.
Tanpa hidup di dalam Tuhan, baik single, menikah, atau dalam fase hidup yang lainnya, kebahagiaan mungkin akan sulit didapat. Karena sumber kebahagiaan hanya bisa didapat jika kita hidup di dalam Tuhan.
Bahagia Tak Memandang Status
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak tergantung dari menikah atau tidak menikah. Pilihan hidup kitalah yang akan menentukan. Baik ketika kita single ataupun menikah, sumber kebahagiaan kita berasal dari Tuhan dan keputusan kita sendiri. Ada orang yang meskipun kehidupannya sulit, tetap bahagia. Ada juga orang yang kehidupannya enak, tetapi tetap tidak merasa bahagia.
Bahagia sesungguhnya akan diperoleh saat kita mematuhi kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Saat kita bergantung dan meletakkan harapan kepada Tuhan, kita akan menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Menikah juga dapat menambah kebahagiaan jika setiap suami dan istri mau menjadi pribadi yang Tuhan inginkan dan menjalankan perannya sesuai firman Tuhan.
Saya mengajak kita semua untuk merenungkan hal ini: di mana kita mencari kebahagiaan kita? Apakah dari Tuhan, atau dari status kita? Entah kita single atau menikah, kebahagiaan sejati datang dari Tuhan. Maukah kita mendapatkan kebahagiaan yang berasal dari Tuhan ?
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. – Mazmur 112:1 - Related Articles:
-ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya