Kembali ke Blog

Devotionals

Susah Kontrol Emosi? Ini 3 Cara Manajemen Emosi

Oleh owen admin · 10 Oktober 2022 · 6 menit baca
Susah Kontrol Emosi? Ini 3 Cara Manajemen Emosi

Sadar atau tidak, manajemen emosi itu penting. Terutama ketika Anda berhadapan dengan kesulitan. Bayangkan, kalau emosi Anda mudah tersulut, apa jadinya hidup Anda? Mudah marah, sedih, cemburu, atau melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Di sinilah kemampuan mengendalikan emosi jadi penting.

Boleh jadi manajemen emosi adalah sesuatu yang baru untuk Anda. Untuk itu, dalam artikel ini kita akan mempelajari 3 cara mudah untuk mengendalikan emosi tersebut. Namun, sebelum itu, mengapa mengelola emosi adalah sesuatu yang penting?

Emosi Menentukan Tindakan Kita

Banyak orang tidak sadar, bahwa emosi menentukan keputusan yang diambilnya. Tidak percaya? Mari ambil contoh satu emosi, yakni kemarahan. 

Orang yang mudah marah akan mudah berkata-kata atau berbuat yang menyakiti orang lain. Ia juga sulit untuk mendengarkan orang lain, dan selalu berkeras bahwa apa yang ia pikirkan pasti benar. Hasilnya? Hubungannya dengan orang-orang sekitar tentu renggang. Tidak ada orang yang berani dekat dengan dia, karena takut kena marah.

Contoh lain, misalnya ada pasangan yang menikah bukan karena melihat karakter, tetapi karena dorongan perasaan. Mereka merasa cocok dan saling menyukai. Barulah kemudian, ketika menjalani pernikahan, semua kejelekan pasangan terbongkar. Cekcok menyusul, lalu rumah tangga terasa seperti bencana.

Apakah lantas kita perlu mematikan emosi? Tidak. Emosi itu baik. Yang salah adalah jika emosi itu tidak terkendali, bahkan menjadi pengarah hidup kita. Bukankah itu berbahaya?

Kabar baiknya, emosi bisa dikelola (manage). Sebelumnya, perlu diketahui bahwa emosi manusia adalah suatu hal yang kompleks. Ia berkaitan dengan masa lalu, memori, pengalaman, cara kerja otak, dan banyak hal lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan membahas manajemen emosi secara mendalam.

Namun tidak perlu khawatir. Tiga hal praktis ini dapat membantu Anda mengelola emosi dengan lebih baik. 

3 Cara Manajemen Emosi

1. Kenali Emosi Anda

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! - Mazmur 139:23-24

Alkitab mengatakan untuk kita menguji dan menyelidiki kita sendiri. Examine yourself. Jadi, sebelum kita mulai melakukan manajemen emosi, kita perlu mengetahui, emosi yang seperti apa yang kita miliki. 

Berikut adalah emotional energy matrix. Anda dapat melihat perasaan-perasaan apa saja yang ada di setiap kategori. Apakah itu yang sedang Anda rasakan? Setelah itu, Anda bisa menentukan, di mana posisi Anda sekarang.

Survival zone: energi tinggi, tetapi negatif

Burnout zone: energy rendah dan negatif

Performance zone: energi tinggi dan positif

Recovery zone: energi positif, tetapi rendah

Yang kita inginkan adalah berada di bagian performance zone, di mana kita punya energi yang positif dan besar. Di area inilah kita akan merasa bahagia dan juga punya kekuatan untuk melakukan sesuatu. Jika Anda masih berada di survival dan burnout zone, Anda perlu melakukan sesuatu agar posisi Anda pindah ke recovery, dan kemudian ke performance zone. Dengan begitu, Anda punya semangat dan energi untuk melakukan banyak hal. 

Tanyakan kepada diri sendiri: 

Apakah saya merasa memiliki energi yang tinggi atau rendah? Mengapa?

Apakah saya memiliki energi yang positif atau negatif? Mengapa?

Setelah Anda mengetahui emosi Anda, apa selanjutnya?

2. Terima Emosi Anda

Tahap selanjutnya dari manajemen emosi adalah menerima emosi Anda.

Banyak orang yang setelah mengetahui emosinya, menolak perasaan tersebut. Misalnya, dia merasa sedih, tetapi dia menganggapnya tidak ada. Dia menyangkal atau mengabaikan emosi tersebut.

Hal ini berbahaya. Suatu saat emosinya akan meledak, di mana ia menangis atau marah-marah tanpa kendali. Ini dikarenakan orang itu menekan (repress) emosinya dalam waktu lama. Sampai satu ketika, emosi tersebut tidak tertahan dan keluar seluruhnya.

Sebaliknya, mari kita lihat contoh Yesus ketika berhadapan dengan emosi.

Belajar Manajemen Emosi dari Yesus

Lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." - Matius 26:38

Ayat tersebut adalah kejadian di Taman Getsemani, pada saat Yesus akan segera ditangkap dan disalib. Yesus tidak menolak atau mengabaikan perasaannya; Dia mengakui bahwa Dia sangat sedih dan sangat takut. 

Bahkan seorang Yesus pun menerima perasaan-Nya. Ia tidak berkata, “Ah, Aku ini kan Tuhan. Masa’ Tuhan kelihatan takut? Kalau begitu, cemen dong.” Tidak. Ia mengaku bahwa Ia sangat sedih.

Jika Anda merasa sedih, kecewa, tertolak, takut, atau apapun itu, deal with it. Terima perasaan itu. Mungkin Anda perlu ambil waktu sebentar untuk menenangkan diri. Jika Anda ingin menangis, menangislah. 

Sudah pasti, Anda juga butuh teman untuk berbagi. Yesus pun pada saat itu membawa ketiga muridnya untuk menemaninya berdoa. Ia berbagi perasaannya kepada mereka. Jadi, tidak perlu sungkan atau gengsi. Carilah teman yang baik, yang bisa Anda percaya. Dan tuangkan apa yang Anda rasakan. 

3. Kontrol Emosi Anda (Manage Your Emotion)

Tapi, sampai kapan menerima emosi? Bolehkah saya menangis selama 3 bulan penuh, dengan alasan patah hati? Bolehkah saya menyalurkan emosi dengan marah-marah setiap hari? Apa batasannya? Inilah tahap berikutnya dari manajemen emosi

Kita perlu untuk bisa membedakan, apakah kita sedang mengontrol emosi, atau emosi sedang mengontrol kita. Dan, kabar baiknya, mengontrol emosi itu bisa dilakukan.

You can choose how you feel. You can’t control other people, but you can control how you react to them. - Anon.

Yesus adalah sosok yang memiliki manajemen emosi yang sangat baik. Masih dengan kejadian di Taman Getsemani. Apakah Yesus menangis berlarut-larut? Tidak.

Di dalam Matius 26:45-46 tertulis, “Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Setelah Yesus mengungkapkan perasaan-Nya kepada Bapa dalam doa sebanyak tiga kali, Yesus bangun dan siap menjalankan misinya. Dia tidak uring-uringan, tidak terus menerus bersedih atau merasa takut. Namun, Dia melakukan bagian-Nya dengan berani. 

Tips Praktis Manajemen Emosi

Dari kisah ini kita tahu, bahwa berdoa adalah salah satu cara untuk mengungkapkan dan mengontrol emosi. Dengan meminta kekuatan dari Tuhan, kita siap untuk menghadapi kehidupan di depan kita. 

Selain berdoa, saat teduh juga sangat baik dilakukan. Membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan adalah salah satu cara terbaik dari manajemen emosi. Jika kita membaca Alkitab setiap hari, firman itu akan masuk ke alam bawah sadar kita, dan menciptakan emosi yang sehat dan positif. 

Di samping berdoa dan bersaat teduh, berikut ada cara-cara manajemen emosi yang bisa Anda coba:

  • Berolahraga. Olahraga membantu mengeluarkan hormon dopamine, yang dapat membuat kita merasa lebih baik. Selain itu, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Setuju?
  • Bersyukur. Hal ini dapat menciptakan perasaan yang positif dan emosi yang sehat
  • Berbuat baik kepada orang lain, sehingga kita tidak fokus kepada masalah kita saja. 
  • Jalan-jalan di alam terbuka. Berada di alam sangat membantu untuk menenangkan emosi kita. 
  • Dan lain-lain.
-

Apakah emosi membangun atau menghancurkan, tergantung kita. Oleh karena itu, kemampuan manajemen emosi sangat penting untuk kita miliki. Semoga ketiga hal di atas, yaitu; mengenali, menerima, dan mengontrol emosi dapat membantu kita memiliki emosi yang lebih positif dan sehat. Selamat mencoba!

Related Articles: