Uncategorized
FOMO, No No! Ini 3 Cara Mendapatkan Hidup yang Penuh
“Dasar bocah FOMO, baru aja ada toko es krim baru langsung buka!” “FOMO banget lu, segala macam dicobain?”
Pernah mendengar FOMO? Jika Anda sering wara-wiri di dunia maya, kata ini pasti muncul satu-dua kali. Arti FOMO adalah fear of missing out, yaitu takut ketinggalan sesuatu yang ngetren. Ada keinginan mengikut tren terbaru, kalau tidak rasanya hidup belum lengkap.
Kok bisa ya orang seperti itu?
Kenapa Orang bisa FOMO
Sekilas, FOMO terasa lucu, bahkan normal. Belum mencoba kopi terbaru? Atau belum pernah liburan ke Jepang? Masih belum pernah ke toko yang lagi viral? Pasti ada rasa kalau kita memang missing out. Harus coba, baru bahagia.
Namun, ada sebab yang lebih dalam.
Perasaan FOMO dipicu oleh kelenjar amygdala dalam otak, yang menentukan ancaman atau bukan ancaman bagi kita. Ketika otak merasa ada sesuatu yang penting terlewatkan, amygdala menganggap hal itu sebagai ancaman, sehingga memicu rasa stres.
Misalkan, ada suatu kafe baru yang viral. Banyak teman Anda sudah ke situ, kecuali Anda. Tentu Anda merasa khawatir, bukan? Itu karena persepsi otak Anda. Karena Anda melewatkan sesuatu, Anda merasa terancam.
Mudah menghindari FOMO ketika Anda tidak tahu Namun, dengan mudahnya informasi menyebar, bagaimana Anda bisa menghindar? Hampir setiap hari ada saja orang yang kelihatannya memiliki atau mengalami lebih dari Anda. Dan mereka tentu terlihat begitu bahagia.
Bahaya FOMO - Kepuasan yang Tak Pernah Sampai
Padahal, aslinya tidak seperti itu.
FOMO adalah masalah persepsi. Begitu keinginan terpenuhi, dengan cepat Anda akan mengingini hal lain lagi. Seperti minum air laut, sebentar Anda terpuaskan, namun segera Anda akan haus lagi.
Demikianlah, FOMO bisa memicu iri hati atau mengingini yang berlebihan (coveting) dan kita tahu bahwa keduanya adalah dosa (Keluaran 20:17). Bahkan, sudah memiliki apa yang Anda inginkan juga tidak menjamin bahwa Anda akan bahagia. Misalnya, sudah berlibur ke Bali, sekarang mau berlibur ke Vietnam. Sudah nonton konser ini, malah mau nonton konser yang lain.
Tuhan Yesus di Lukas 12:15 sudah berkata, “sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Bukan apa yang Anda miliki (atau alami) yang membuat Anda penuh. Jadi, mengatasi FOMO bukanlah dengan terus-menerus mendapatkan apa yang Anda inginkan.
3 Langkah Mendapatkan Kepenuhan
Mengisi hidup dengan materi atau pengalaman saja, pada akhirnya tidak akan bertahan lama.
Jadi, bagaimana kita bisa merasakan kepenuhan? Apa yang harus kita lakukan jika FOMO itu datang?
1. Mendengarkan (dan Berpaling Kepada) Tuhan
Kepenuhan dalam hidup datang dari Tuhan saja. Seperti dikatakan pada Yohanes 4:13,
Jawab Yesus kepadanya: ”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.
Kala itu Tuhan Yesus sedang berbicara dengan perempuan Samaria. Yesus tahu, bahwa perempuan ini ‘haus’ jiwanya: ia kawin cerai berkali-kali, dan kini tinggal dengan lelaki yang bukan suaminya. Oleh karena itu, Yesus menggunakan air sebagai perumpamaan kondisi perempuan tersebut.
Jika ia minum air (mencari hal-hal duniawi) untuk memuaskan diri, ia akan tetap haus. Namun, ketika ia minum air hidup (menyembah dan dekat dengan Tuhan) barulah ia akan puas. Akhirnya, perempuan Samaria itu percaya kepada Yesus - ia mendengarkan Yesus.
Hari ini, suara siapa yang kita dengar? Apakah dunia, yang terus-menerus memicu keinginan dan nafsu kita? Atau Tuhan, yang menjanjikan kepenuhan dan kepuasan diri? Ketika Anda merasa takut ketinggalan tren ini dan itu, mungkin Anda perlu mematikan suara-suara dunia dan berpaling kepada Tuhan.
Bacalah firman-Nya. Renungkan janji-Nya. Biarkan firman Allah masuk ke dalam hati Anda, dan rasakan kepenuhan yang Ia berikan.
2. Mengendalikan Keinginan
Percayakah Anda bahwa kepenuhan hidup berasal dari rasa cukup?
FOMO membuat kita mengingini dan terus mengingini. Seolah kecukupan selalu ada syaratnya, dan tidak akan cukup sampai barangnya ada. Padahal, ini semua hanya ilusi.
Jadi apa solusinya? Mengendalikan keinginan. Tidak semua harus dibeli, tidak semua harus dimiliki. Ibrani 13:5 berkata,
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Zaman sekarang, ayat di atas terasa tidak masuk di akal. Mudah sekali kita melihat apa yang dimiliki orang lain, dan kita pun mau memilikinya juga. Malah, kita berpikir bahwa hal yang kita inginkan itu membuat kita bahagia.
Nyatanya, Alkitab jelas berkata bahwa jauh lebih baik ketika kita mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki. Memang, jika Tuhan menambahkan apa yang kita miliki, kita bersyukur dan berbahagia, namun rasa cukup itu harus melekat di hati kita.
Manakah diri kita? Apakah kita mau merasa cukup, atau membiarkan ekspektasi dan keinginan menguasai diri kita?
3. Memberi Lebih Banyak
Memberi, bukan menerima, malah membuat kita lebih bahagia.
Terdengar aneh, kan? Ketika kita memberi, harta kita berkurang. Kita tidak mendapat apa-apa kembali. Lebih banyak ruginya ketika kita memberi daripada menerima.
Namun, Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:35 mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Kenyataannya, ketika kita memutuskan untuk memberi, memang kita akan merasa lebih bahagia. Sebuah penelitian menemukan bahwa memberi merangsang hormon dopamin, endorfin, dan oksitosin yang membuat kita merasa lebih ‘happy.’
Pula, dengan memberi kita jadi tidak berpikir akan diri kita sendiri. Bukan untung rugi, bukan lagi apa yang kita dapatkan. Kita berpikir akan kesenangan orang lain, dan justru itulah yang membuat kita berbahagia.
Bahkan Paulus berkata lagi di 2 Korintus 9:7, bahwa Tuhan “mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Hebat, kan?
Lepas dari Jebakan Keinginan
Bukan berarti kita tidak boleh mengejar keinginan. Jika mampu dan memang baik, boleh saja. Namun, yang perlu kita hindari adalah berpikir bahwa memenuhi keinginan akan mendatangkan rasa puas.Untuk mematikan FOMO, kita perlu mencari air hidup yang dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Datang kepada Tuhan, kejar kehendak-Nya, lalu biasakan memberi. Dengan begitu, kita pun lepas dari jebakan nafsu dan keinginan.
Sumber: https://www.techtarget.com/whatis/definition/FOMO-fear-of-missing-out
https://greatergood.berkeley.edu/article/item/5_ways_giving_is_good_for_you
-
Related Articles:
- 3 Tips Menghilangkan Rasa Takut
- Miliki Hati yang Memberi
- Peringatan: Kekurangan Air Hidup Dapat Menyebabkan Dehidrasi Rohani
- 4 Rahasia di Balik Berkat Tuhan yang Menarik Dipelajari
- Mengubah Kekhawatiran Menjadi Kedamaian. Bagaimana Caranya?
ARTIKEL TERKAIT
12th Anniversary Precious Woman Fellowship - Indah pada Waktu-Nya
Pada hari Sabtu, 17 Oktober 2020, Precious Woman Fellowship (PWF) merayakan hari jadinya atau anniversary-nya yang ke 12 tahun secara virtual, melalui zoom. Dengan mengusung tema…
Baca selengkapnyaStand in Awe (Cover)
Subscribe di link berikut untuk mendapatkan update content renungan, inspirasi, dan lagu rohani: https://bit.ly/GKDI-YT-Sub Stand in Awe ChorusStand in awe; Your power and Your…
Baca selengkapnyaEkonomi Pribadi Anda Terimbas Pandemi? Terapkan 6 Tips Ini! (Bagian 2)
Pandemi coronavirus berdampak besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat global. Jika kondisi finansial Anda turut terpuruk, jangan putus asa. Selain tiga tips pertama di halaman…
Baca selengkapnya