Devotionals
Anak Sulit Mendengarkan Nasihat? Coba 3 Tips Berikut Ini!
Sebagai orang tua, kita berharap anak mau mendengarkan nasihat kita. Bukankah kita mengerti lebih baik? Bukankah kita ingin anak menjadi yang terbaik? Sayang, kerap kali anak seolah enggan mendengar apa kata kita. Mereka pikir, kita selaku orang tua terlalu cerewet. Bahkan, ketika maksud kita baik sekalipun.
Kadang rasanya kita ingin menyerah menghadapi sikap mereka. Kita ingin yang terbaik untuk mereka, tetapi apa jadinya jika anak tak mau mendengarkan?
Anakku Tidak Mau Mendengarkan
Waktu anak masih balita, mudah memaklumi jika anak tidak mendengarkan. Akan tetapi, saat anak menjadi lebih dewasa, dan tetap saja mereka sulit mendengarkan kita, wajar jika keputusasaan mulai muncul.
Ketika anak saya berumur 8 tahun, identitasnya mulai terbentuk. Mudah baginya menyatakan apa yang ia pikirkan dan inginkan. Habis sudah sifatnya yang lucu menggemaskan di kala bayi.
Sering saat saya membantu anak belajar, kami kerap bertengkar. Mengapa? Karena anak seperti tidak mau memperhatikan nasihat saya. Saya suruh menulis huruf dengan benar, dia malah menulis asal-asalan. Saya berusaha mengingatkannya, tetapi dia malah bilang, “Papa ini cerewet banget. Huruf harus begini-begitu, kan jadi tak selesai-selesai.” Karena sudah tidak sabar, saya mengambil spatula kayu untuk mendisiplinkannya.
Biasanya saya akan menyesal sesudah itu. Saya merasa tidak sanggup menguasai emosi. Kecewa dan jengkel bercampur jadi satu. Mau bagaimana lagi, anak saya sulit mendengarkan nasihat yang saya beri.
3 Cara agar Anak Mau Mendengarkan Nasihat
Saya percaya sebagai orang tua, Anda juga pernah mengalami apa yang sudah saya ceritakan. Menasihati atau mengarahkan anak memang tidak pernah mudah. Akan tetapi, itu bukan alasan bagi kita untuk menyerah.Kita selaku orang tua perlu memikirkan cara menasihati yang tepat. Ada tiga tips yang cukup berhasil agar anak mudah mendengarkan.
1. Kembangkan Hubungan Baik dengan Anak
Sebagai orang tua, saya tergoda untuk sering menasihati anak tanpa membangun koneksi dengan anak. Saat anak masih balita, saya sangat senang dekat dengan dia. Namun, seiring bertambahnya usia anak, kedekatan kami berkurang.
Banyaknya pekerjaan dan kegiatan menyita waktu saya. Tidak heran, hubungan saya dengan anak jadi renggang. Ia berpikir bahwa kalau saya mendekat, itu hanya untuk menasihati, bahkan memarahi.
Berkaca dari pengalaman di atas, menjalin hubungan baik dengan anak itu penting. Pastikan bahwa kita bersikap lembut kepada anak. Ajak dia berbicara atau bermain. Tanyakan kabarnya, dan cari tahu apa yang dia sukai.
Kolose 3:21 mengatakan, Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Sudah sepantasnya orang tua menghadirkan koneksi yang baik dengan anak. Berapa kali kita bermaksud baik, namun akhirnya hal buruk yang terjadi? Mari kita, selaku ayah atau ibu, selalu dekat sehingga hati anak gembira bersama kita.
2. Sampaikan Nasihat dengan Cara yang Tepat
Amsal 16:24 (TB) Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
Amsal tersebut menegaskan, bahwa perkataan yang menyenangkan akan sangat membantu hubungan kita dengan anak. Nasihat yang disampaikan dengan kata dan cara yang baik, akan lebih dapat diterima oleh anak kita.
Tidak dipungkiri, saya sering menyampaikan nasihat dengan nada yang kasar dan emosi. Mungkin saya masih bisa berbicara dengan baik pada awalnya. Namun, saat anak mulai tidak mau mendengarkan, amarah saya langsung tinggi.
Jika suatu nasihat disampaikan dengan penuh marah, apa anak akan tertarik untuk mendengarkan? Nasihat yang disampaikan dengan sabar dan tenang pasti lebih berhasil daripada nasihat yang penuh amarah. Mari renungkan bersama-sama. Bagaimana Anda menasihati anak Anda?
Menyadari hal itu, saya mulai mengubah cara dan nada saya berbicara. Anak saya jadi lebih mudah menerima dan mendengarkan perkataan saya.
3. Berikan Penghargaan Jika Anak Mendengarkan
Saat anak mendengarkan dan melakukan nasihat, kita bisa memberikan penghargaan kepadanya. Bisa berupa ucapan terima kasih dan pujian atas kepatuhannya akan nasihat kita.
Amsal 12:25 berkata, Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.
Amsal di atas mengatakan, perkataan yang baik itu dapat menggembirakan seseorang. Saya percaya hal itu berlaku juga bagi anak kita. Saat penghargaan dan pujian diberikan kepada anak, mereka akan merasa gembira. Mereka akan merasa lebih berharga.
Pujian akan menanamkan citra diri yang positif bagi diri anak. Anak juga akan termotivasi untuk mendengarkan nasihat kita berikutnya. Hubungan kita dengan anak pun jadi makin dekat.
Saat anak saya mau mendengarkan dan melakukan nasihat, saya akan memujinya. “Papa bangga sama kamu,” begitu pujian saya kepadanya. Lucunya, setiap dia merasa telah berhasil mengerjakan sesuatu, dia akan bertanya, “Papa bangga ya sama aku?” Saya pun akan segera mengiyakannya.
Dengan adanya penghargaan, anak akan lebih termotivasi untuk mendengarkan.
Jangan Mudah Menyerah
Kunci agar anak mendengarkan nasihat kita sesungguhnya sederhana. Bangun hubungan dengan anak, nasihati dengan cara yang baik, dan beri pujian jika anak melakukan nasihat itu. Memang, lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Akan tetapi, pada waktunya, kita akan menuai buahnya: kedekatan anak dengan kita, selaku orang tua.
Related Articles:
ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya