Kembali ke Blog

Devotionals

Keluar dari Penyesalan, Bagaimana Caranya?

Oleh novia collis · 13 April 2021 · 5 menit baca
Keluar dari Penyesalan, Bagaimana Caranya?

Tidak ada manusia yang luput dari penyesalan. Penyebabnya bisa berupa sebuah kesalahan atau kegagalan yang terus menghantui. Barangkali juga Anda menyesal karena tidak melakukan hal-hal yang seharusnya bisa Anda lakukan. Atau, Anda salah mengambil keputusan, yang akibatnya merugikan atau mencelakakan orang lain, terutama orang yang Anda sayangi. Menyesal adalah hal yang manusiawi, karena kita tidaklah sempurna.

Namun, terus terjebak dalam kesalahan atau hidup dalam bayang-bayang masa lalu bukanlah hal yang sehat. Mengapa? Karena, Tuhan tidak ingin Anda menjadi tawanan masa lampau.

Jadi, bagaimana mengatasi penyesalan dengan cara yang benar?

Penyesalan Yang Menghasilkan Pertobatan

Ingatkah Anda pada penyesalan yang dialami Yudas dan Petrus? Keduanya sama-sama pernah melakukan kesalahan besar, dan keduanya sama-sama menyesal. Namun, mereka memilih langkah yang berbeda. Yudas terus terjebak dalam rasa sesal di dunia, sementara Petrus memilih penyesalan dari Tuhan.

Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. – 2 Korintus 7:10

Yudas, yang menyesal karena telah menyerahkan Yesus sehingga Dia dijatuhi hukuman mati, memutuskan untuk menggantung dirinya (Matius 27:3-5). Petrus, yang menyangkal Yesus  tiga kali sebelum Dia disalibkan, juga menyesal, tetapi penyesalan tersebut memimpinnya kepada pertobatan.

Apakah Yesus ingin Yudas yang menyesali perbuatannya berakhir dengan kematian? Tentu tidak. Yesus ingin Yudas menyesal, tetapi penyesalan itu semestinya membawa ia kepada keselamatan, bukan maut.

Demikian juga yang Yesus inginkan dari Anda. Apakah penyesalan Anda membawa Anda kepada pertobatan? Atau, alih-alih, Anda menghukum diri sedemikian rupa dan tidak bisa memaafkan diri sendiri?

Bentuk penyesalan yang Tuhan inginkan adalah hati yang koyak. Dengan kata lain, hati yang hancur, bukan tindakan yang menghancurkan diri sendiri.

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. – Yoel 2:13 

Jika demikian, apa yang bisa Anda lakukan?

Lepaskan Masa Lalu, Terima Kenyataan

Firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! – Yesaya 43:18  

Penyesalan ibarat penjara yang membuat Anda tak bisa keluar dari masa lalu dan sulit menikmati kehidupan saat ini.

Ya, kesalahan yang Anda lakukan memang nyata. Apa yang telah terjadi akan menjadi sejarah. Anda tak bisa menulis ulang hidup Anda. Anda juga tidak bisa mengoreksi atau membatalkan apa yang sudah berlalu.

Yang bisa Anda lakukan adalah melepaskan masa lalu, belajar dari masa lalu, dan hidup di masa kini.

… dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” – Keluaran 16:3

Setelah keluar dari Mesir dan mengalami kelaparan dalam perjalanan menuju tanah Kanaan, bangsa Israel terkenang kepada masa lalu. Mereka menyayangkan berlimpahnya makanan di Mesir, meskipun mereka hidup dalam perbudakan. Ketimbang menyongsong masa depan dan move on, mereka malah ingin kembali ke masa silam sebagai budak. - Padahal, jika mereka tetap ada di Mesir saat itu, mereka tidak akan pernah menyaksikan pertunjukan spektakuler Tuhan melalui sepuluh tulah (Keluaran 7-11) dan mukjizat Laut Merah (Keluaran 14:15-31). Terlebih, mereka akan terus hidup dalam perbudakan seumur hidup.

Bagaimana dengan Anda hari ini? Apakah Anda ingin terus menjadi budak masa lalu seumur hidup Anda?

Untuk menghapus penyesalan, lepaskanlah masa lalu Anda dan terimalah kenyataan. Jadikan kesalahan atau kegagalan Anda pelajaran yang berharga, lalu bersiaplah menyongsong masa depan bersama Tuhan.

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. – Filipi 3:13-14   

Ubah Rasa Sesal Menjadi Rasa Syukur

Pernahkah Anda merasa, “Mengapa hidup di zaman itu jauh lebih mudah? Sekarang semuanya serba susah.” Atau, Anda berpikir, “Betapa indahnya masa lalu. Seandainya saya boleh kembali ke masa itu dan mengulangnya kembali.”

Kalimat-kalimat semacam ini adalah perkataan keluh-kesah, yang akan semakin membuat Anda terjebak dalam penyesalan.

Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. – Pengkhotbah 7:10 

Jangan berpikir bahwa masa lalu selalu lebih indah dari masa kini. Pengkhotbah katakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1).”

Daripada hidup dalam penyesalan, lebih baik ubah penyesalan tersebut menjadi rasa syukur, seperti yang Yusuf lakukan:

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. – Kejadian 50:20  - Bersyukurlah untuk masa lalu, karena tidak ada yang kebetulan. Jika Tuhan bekerja di masa lalu, Tuhan juga terus bekerja di masa kini. Masa lalu membentuk Anda, melatih dan menyempurnakan pribadi serta karakter Anda hingga menjadi seperti yang sekrarang.

Bayangkan jika Anda tak pernah melakukan kesalahan. Anda tidak akan pernah belajar apa-apa, bukan? Anda tetap akan menjadi orang yang sama tahun demi tahun.

Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu. – Mazmur 119:73 

So, jangan lagi hidup dalam penyesalan! Bawalah rasa sesal Anda kepada pertobatan dan ubah menjadi rasa syukur. Semangat, Anda pasti bisa!

Related Articles:

-