Devotionals
Kristen Sejati atau Kristen Ikut-ikutan?
Sebutan “sejati” dan “ikut-ikutan” pada judul di atas bukanlah sebuah label permanen yang melekat pada diri kita. Bukan pula ditujukan untuk menghakimi kadar iman seseorang. Kristen “sejati” dan Kristen “ikut-ikutan” adalah dua atribut sederhana yang memudahkan kita melakukan refleksi terhadap perjalanan rohani kita sejauh ini.
Untuk itu, ada sejumlah pertanyaan yang bisa kita ajukan pada diri sendiri. Renungkan tiga hal berikut untuk melihat bagaimana sikap hati Anda sebagai seorang Kristen saat ini:
1. Apakah Keyakinan Saya Menumpang Keyakinan Orang Lain atau Hal Tertentu?
Menumpang dalam konteks ini bukan berarti kita tidak percaya Tuhan. Namun, kepercayaan kita bukan didasarkan pada keyakinan sendiri atau hubungan personal kita dengan Tuhan. Keyakinan kita dipengaruhi oleh hal-hal seperti status, orang tua, pacar, pembimbing, gereja, grup, dan lain-hal.
Lot, keponakan Abraham, dapat diibaratkan memiliki iman yang “menumpang” iman Abraham. Bacalah Kejadian 12-14 dan Kejadian 18:16-19:38 untuk mengetahui kisah Abraham dan Lot.
Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. – Kejadian 12:8
Setiap kali mencapai sesuatu, entah itu lokasi atau kondisi tertentu, Abraham selalu membuat mezbah untuk Tuhan. Dalam kitab Kejadian, Anda akan menemukan sejumlah ayat tentang Abraham yang membangun mezbah bagi Tuhan.
Abraham memiliki hubungan personal dengan Tuhan, karena dikatakan, “Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi Tuhan dan memanggil nama Tuhan.” Melalui mezbah tersebut, Abraham bicara kepada Tuhan dari hati ke hati.
Lalu, bagaimana dengan Lot?
Tak satu pun ayat menyebutkan bahwa Lot membangun mezbah untuk Tuhan. Padahal, Lot tinggal bersama dengan Abraham. Jadi, di manakah Lot ketika Abraham membangun mezbah? Tidak dikatakan bahwa ia membantu Abraham. Kita tidak tahu apakah ia sibuk dengan urusannya sendiri atau hanya menjadi penonton saat pembangunan mezbah.
Betul, Lot percaya kepada Tuhan, yang memperhitungkan dirinya dan keluarganya sebagai orang benar ketika Dia hendak memusnahkan Sodom dan Gomora (2 Petrus 2:7).
Namun, dari perihal mezbah dan tidak adanya tulisan tentang komunikasi pribadi antara Lot dan Tuhan, kita dapat menarik kesimpulan: Lot tidak punya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Lot ibarat menebeng iman kepada Abraham, yang menaruh kepercayaannya kepada Tuhan.
Di manakah Anda meletakkan keyakinan Anda saat ini? Apakah Anda seperti Abraham, yang keyakinannya sejati, atau seperti Lot, yang imannya “menumpang” iman orang lain?
2. Apakah Tuhan Menjadi Prioritas Saya?
Tuhan membuat Abraham dan Lot menjadi sangat kaya (Kejadian 13). Walaupun Tuhan hanya mengikat perjanjian berkat dengan Abraham, Dia juga memberkati Lot yang tinggal bersama-sama dengan Abraham.
Karena keduanya begitu makmur, tanah tempat mereka tinggal tidak cukup menampung semua ternak mereka. Akibatnya, sering terjadi perkelahian antara gembala Abraham dan Lot. Abraham pun mengambil inisiatif supaya mereka berpisah.
“Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." – Kejadian 13:9
Dan, inilah respon Lot:
Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar…
Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.
– Kejadian 13:10-13
Lot mendasarkan pertimbangannya semata-mata pada logika: memilih daerah yang paling subur. Persediaan air menjadi faktor krusial bagi kesuksesannya sebagai peternak. Karena itulah, Lot berkemah di dekat Sodom, di tengah bangsa yang tidak bermoral.
Lot tidak berpikir jauh bagaimana kehidupan rohaninya ketika tinggal di suatu daerah yang tidak mengenal Tuhan. Apakah hal itu baik bagi kesehatan jiwanya, istrinya, dan anak-anaknya? Bagaimana cara mereka menjaga diri dan tetap berpegang pada perintah Tuhan?
Dari berkemah dekat Sodom, lambat-laun hunian Lot bergeser ke dalam kota. Tentunya, dengan tinggal di pusat kota, akses bisnisnya akan semakin mudah. Kesalahan prioritas inilah yang kelak membuat Lot kehilangan segalanya ketika Sodom dimusnahkan (Kejadian 19:1-29)—hartanya, istrinya, dan moral baik keluarganya. Di kemudian hari, keturunan Lot menjadi bangsa yang tidak percaya Tuhan. Prioritas menentukan pilihan, dan pilihan menentukan masa depan Cara seseorang menentukan pilihan menunjukkan prioritas hatinya, dan kelak, menentukan masa depannya. Di sinilah pentingnya prioritas yang benar sebagai dasar keputusan kita.
Misalnya, sejak awal Lot sebenarnya tidak perlu berpisah dengan Abraham. Ia bisa saja memerintahkan para gembalanya untuk mengalah atau berdamai dengan para gembala Abraham. Dengan tetap berada serombongan bersama orang pilihan Tuhan, setidaknya iman Lot akan lebih terjaga.
Prioritas yang salah dapat menggiring hidup Anda menuju kehancuran. Seorang Kristen sejati tahu apa yang menjadi prioritas utamanya, yaitu Tuhan. Namun, Kristen yang ikut-ikutan akan menaruh prioritasnya pada hal-hal lain.
Apa prioritas Anda saat membuat keputusan-keputusan dalam hidup? Mungkin, sama seperti Lot, kita melihat tawaran dunia yang tampak begitu menggiurkan dan menjanjikan pada awalnya. Namun, kisah Lot mengajarkan bahwa berada di jalan Tuhan selalu lebih baik, meskipun kita belum dapat memandang jauh ke masa depan untuk melihat hasilnya.
3. Apakah Saya Enggan Bertobat Meski Ada Kesempatan?
Melalui negosiasi Lot dengan malaikat Tuhan, tercapailah kesepakatan bahwa Tuhan baru akan menghancurkan Sodom dan Gomora setelah rombongan Lot mencapai Zoar.
Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. – Kejadian 19:30
Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Lot memilih menetap di pegunungan dan bukan Zoar? Trauma membuat Lot takut Tuhan akan menjatuhkan hujan api dan belerang di Zoar, mengingat tempat ini seharusnya juga ikut dihukum (Kejadian 19:21).
Namun, tahukah Anda bahwa saat itu Lot punya pilihan lain? Daripada naik ke pegunungan, Lot bisa kembali kepada Abraham. Barangkali perasaan gengsi atau malu (sesudah jatuh miskin, atau atas pilihannya tinggal di kota Sodom) membuat Lot menyimpang semakin jauh dari kebenaran.
Tinggal di gua pegunungan membuat keluarga kecil itu terisolasi dari dunia luar. Putus asa akan masa depan garis keturunan mereka, kedua anak perempuan Lot pun memilih melakukan dosa terhadap ayah mereka.
Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita." – Kejadian 19:31-32
Setiap kali kita berdosa, kita punya banyak kesempatan untuk bertobat. Namun, terkadang, entah karena sempitnya cara pikir kita atau karena gengsi, kita malah memilih untuk menjauhi kebenaran.
Seorang Kristen sejati akan memilih kembali kepada Allah. Jadi, jangan izinkan mental “ikut-ikutan” mendorong Anda semakin jauh dari kebenaran. Mungkin Anda malu atau takut pada omongan orang, tapi selama Anda memilih Tuhan, jiwa Anda akan tenang dan dipulihkan.
Seorang Kristen sejati punya keyakinan penuh di dalam Tuhan, memprioritaskan Tuhan di atas segalanya, dan selalu memilih bertobat, sejauh apa pun ia sudah melenceng. Mari kita luangkan waktu untuk belajar dari kesalahan Lot dan terus berjuang menjadi Kristen sejati!
Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official: WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official
Artikel terkait: Bagaimana Mengukur Kedewasaan Rohani?
Video inspirasi:ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya