Kembali ke Blog

Devotionals

Diam Tak Selalu Emas: Ketika Kita Enggan Selesaikan Konflik

Oleh suwandi setiawan · 17 November 2020 · 6 menit baca
Diam Tak Selalu Emas: Ketika Kita Enggan Selesaikan Konflik

Diam bisa menjadi sesuatu yang baik sekaligus buruk. Pengkhotbah 3:7 mengatakan, ada waktu untuk diam dan ada waktu untuk berbicara. Namun, ketika kita punya masalah dengan orang lain, apakah sebaiknya kita tetap diam? Apakah mendiamkan orang yang melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita adalah hal yang benar? 

Sering kali, meskipun tahu bahwa kita perlu bicara supaya dapat menyelesaikan konflik, kita memilih diam ketimbang mengutarakan pikiran atau perasaan kita. Masalahnya, apakah diam merupakan solusi yang Alkitabiah dalam menyelesaikan masalah? Hal-hal apa yang biasanya membuat kita memilih diam, dan seperti apa solusinya?

Mengapa Diam, dan Apa Solusinya

1. Untuk Menghukum Orang Lain

Apakah Anda memilih mendiamkan seseorang sebagai bentuk hukuman karena ia telah bersalah atau menyakiti hati Anda? Terkadang, ini menjadi alasan saya untuk mendiamkan orang lain. Saya ingin orang yang telah menyakiti saya merasa dihukum, dengan cara menolak bicara dengannya selama beberapa waktu. 

Pertanyaannya, apakah ini sikap yang benar? Terlepas dari apa pun kesalahannya, apakah firman Tuhan membolehkan kita untuk menghukum orang lain, meskipun bentuknya “pasif?” 

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. – Roma 12:19  

Pembalasan adalah hak Tuhan. Jadi, ketika kita mendiamkan orang karena ingin membalas atau menghukumnya, kita telah mengambil hak Tuhan. Padahal, Tuhanlah yang berhak membalas, bukan kita. 

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan?

Katakan Kebenaran dengan Kasih (Speak the Truth in Love)

Sebaliknya, mengatakan kebenaran dalam kasih, kita akan bertumbuh dalam segala hal kepada Dia, yang adalah Kepala, yaitu Kristus. – Efesus 4:15 (AYT)

Tuhan tidak mengajarkan kita untuk menghukum orang lain, sekalipun itu dilakukan dalam diam. Dia menghendaki kita untuk menyatakan isi hati kita dengan kasih, baik itu kesedihan, kekecewaan, kekesalan, atau perasaan apa pun yang mengganjal diri kita. 

Dengan diam, apakah Anda yakin orang yang Anda diamkan itu akan sadar dan mengerti di mana letak kesalahannya? Belum tentu. Namun, dengan mengungkapkannya, niscaya ia akan mengerti apa yang Anda rasakan, bagian mana dari sikap atau perkataannya yang membuat Anda terluka. Dengan demikian, baik Anda maupun orang tersebut dapat semakin bertumbuh, ibarat besi menajamkan besi (Amsal 27:17). 

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. – Roma 8:1-2

Jika Tuhan saja tidak menghukum kita, bahkan memerdekakan kita melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, apa alasan Anda mendiamkan orang lain sebagai bentuk hukuman? Apakah dosa orang lain terhadap Anda lebih besar dari dosa Anda kepada Tuhan?

2. Demi Menghindari Konflik

Apakah Anda diam karena ingin menghindari konflik atau tidak ingin memperbesar masalah? Mungkin dalam hati Anda berkata, “Ya sudahlah, orangnya memang begitu. Biarkan saja. Yang penting saya mengampuninya.” Namun, di saat yang sama, Anda menghindari persahabatan yang lebih dalam dengan orang tersebut. Dengan bersikap seperti ini, Anda malah menumpuk konflik yang lebih besar lagi di kemudian hari. 

Saya pernah mendiamkan seseorang selama berbulan-bulan karena tidak suka dengan ucapannya kepada saya. Menurut saya, orang ini kurang peka, terlalu blak-blakan, dan suka menghakimi. Meskipun maksudnya baik, kata-katanya tajam dan pedas, sehingga tidak jarang melukai hati saya.

Suatu kali, orang ini mengucapkan sesuatu yang tidak bisa saya terima. Mungkin memang sudah sifatnya seperti ini, pikir saya. Alhasil, saya pun jadi malas bicara dengannya. Dan, berhubung kami pergi  ke gereja yang sama, saya selalu berharap tidak akan berpapasan dengannya. 

Apa daya, suatu hari orang ini tiba-tiba muncul di depan saya. Saya merasa seperti melihat hantu dan berharap punya ilmu menghilang saat itu juga. Saya pikir saya bisa memaafkannya tanpa perlu menyelesaikan masalah kami, tapi ternyata tidak bisa. 

Diam, Menciptakan Konflik Baru

Memang, bersikap diam terkadang lebih mudah. Kita khawatir masalah akan semakin runyam atau suasana menjadi panas jika dibahas. Atau, kita tidak tahu bagaimana cara menyampaikan uneg-uneg kita dengan baik. Hati kita masih panas sehingga lebih baik tidak mengatakan apa pun. 

Ketika ini terjadi, mengambil waktu untuk diam supaya dapat mendinginkan kepala adalah pilihan bijak. Namun, jangan berdiam terus-menerus. Setelah lebih tenang, carilah solusi atau mintalah masukan kepada orang yang lebih dewasa, jika perlu. Setelah itu, Anda mungkin dapat melihat lebih jernih apa inti permasalahnya. Bisa jadi Andalah yang perlu berubah. Mungkin juga, Anda jadi mampu mengutarakan isi hati dengan baik kepada orang yang bersangkutan. 

Bicara dengan dilandasi kasih adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Dengan diam dan menolak membicarakannya, kita justru sedang menutupi masalah dengan masalah baru. 

Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. – Zakharia 8:16

3. Karena Sulit Mengungkapkan Perasaan

Saya pernah membaca sebuah wacana yang berbunyi:

Why complicate life? (Mengapa membuat hidup menjadi rumit?)

Missing somebody? Call (Kangen seseorang? Telepon)
Wanna meet up? Invite (Ingin bertemu? Undang)
Have questions? Ask (Punya pertanyaan? Tanyakan)
Don’t like something? Say it (Tidak suka akan sesuatu? Katakan)
Like something? State it (Suka sesuatu? Nyatakan)
Want something? Ask for it (Ingin sesuatu? Mintalah)
Love someone? Tell it (Mencintai seseorang? Katakan)

We just have one life. Keep it simple. (Kita hanya hidup satu kali. Dibuat simpel saja.)

Saya setuju dengan kutipan di atas—tentunya selama kita bisa mengungkapkan perasaan kita dalam waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat, seperti pada poin Speak the Truth in Love. Banyak pertengkaran bermula dari ketidakjujuran atau adanya ekspektasi yang tak terucap. 

Barangkali ini terjadi karena kita dibesarkan dalam lingkungan keluaga atau budaya yang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan secara terbuka. Namun, kita tetap harus belajar untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Mengapa demikian? 

Diam, Membuat Orang Lain Berdosa

Sikap diam yang mendadak bisa memicu orang lain untuk berasumsi atau berpikiran negatif terhadap diri kita. 

Saya pernah didiamkan oleh orang lain, dan hal itu membuat saya berpikir, “Saya salah ngomong apa, ya?” Ketika akhirnya orang ini mau bicara lagi, ia mengaku sedang banyak pergumulan, bahwa hubungannya dengan Tuhan juga sedang tidak baik. Hal ini mempengaruhi hidupnya sehingga ia enggan merespon orang lain dengan baik juga.

Jujurlah terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini baik untuk Anda dan juga orang lain, sehingga Anda juga tidak membuat seseorang berdosa karena memiliki asumsi buruk terhadap sikap diam Anda. 

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. – Matius 5:37

Apa pun alasan kita untuk diam, Tuhan ingin kita jujur kepada orang lain tentang perasaan kita dan bisa mengungkapkan kebenaran di dalam kasih. Diam saja tidak akan menyelesaikan masalah. Firman Tuhan berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kalau kita tidak mau didiamkan orang lain, sudah seharusnya kita tidak mendiamkan orang lain juga.

-

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: