Visi dan Misi

Visi dan Misi

”Kita Berkumpul di Sini untuk Mengenal Tuhan dan Membuat Tuhan Dikenal”

 

Kita Berkumpul di Sini…

Tuhan menciptakan kita untuk berada di dalam sebuah keluarga. Bagi hampir setiap dari kita, kenangan paling awal kita ialah menjadi bagian dari sebuah grup – ayah, ibu, atau saudara kandung. Tuhan merancang kita berada di dalam lingkungan keluarga ialah untuk melindungi kita, dan agar kita belajar apakah kasih itu. Kenangan paling bahagia dalam hidup kita hampir selalu bersama dengan keluarga kita atau kelompok sahabat yang terjalin erat.

Sayangnya, ketika kita semakin besar, kita kehilangan pandangan tentang rancangan Tuhan ini dan menuju kehidupan yang semakin jauh dari kasih dan kepercayaan. Untuk banyak orang, hari-hari mungkin berlalu tanpa menerima atau memberi penghiburan, atau memiliki percakapan yang dalam dari hati ke hati dengan seseorang yang peduli pada kita.

(Efesus 2:19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Mengetahui betapa mudahnya kita bisa kehilangan hati, Tuhan merancang jemaat untuk menjadi rumah dimana kita dapat menjaga hati kita dan merasa bebas untuk mengasihi kembali. Alkitab berkata jelas bahwa rumah Tuhan bukan hanya sebuah tempat dimana orang bertemu seminggu sekali, tapi lebih merupakan grup orang-orang yang berkumpul bersama sesering mungkin untuk saling menjaga hati. Bukan kuantias waktu yang penting untuk kita berkumpul, tapi juga kualitas dan kedalaman hubungan kitalah yang akan membantu melindungi hati kita.

(Efesus 4:15-16) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Dari pada-Nyalah seluruh tubuh,—yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih

(Ibrani 10:24-25) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Salah satu tema yang mengalir di seluruh Alkitab ialah bahwa kita membutuhkan orang lain dalam hidup kita agar memiliki hubungan yang dalam dan konsisten dengan Tuhan. Hati yang tulus dan sungguh-sungguh bisa mendorong seseorang memulai perjalanannya ke surga, tapi apa yang dibutuhkan agar ia sampai ke tempat tujuan ialah tangan yang siap menolong dan kata-kata yang menyembuhkan dari orang-orang yang berkomitmen kepada kita dalam kasih. Kita butuh orang lain untuk mengajar kita agar lebih mirip dengan Kristus, juga yang meminta pertanggungan jawab kita atas janji yang telah kita buat untuk taat kepada Tuhan Yesus.

Mari kita, seperti kata Alkitab, tidak menjauhkan diri dari pertemuan jemaat supaya kita dapat mengasihi orang lain dan dikasihi orang lain. Apakah kita hidup dalam masyarakat moderen yang serba cepat, atau masyarakat yang penuh ketidaknyamanan dan bahaya, kita harus berkomitmen untuk memprioritaskan waktu kita dengan berfellowship dengan orang-orang Kristen di kebakitan hari Minggu, kebaktian tengah minggu, dan pertemuan-pertemuan pendalaman Alkitab. Lebih penting dari pertemuan dengan keluarga rohani kita, kita harus berkomitmen agar hati kita dibimbing, baik oleh pembimbing rohani atau kelompok sahabat yang mau membantu satu sama lain agar sampai ke surga.

Oleh sebab itu, mari kita ingat juga bahwa setiap dari kita akan berhadapan dengan Tuhan sendirian di hari penghakiman. Ia telah memberi kita keluarga rohani untuk melindungi hati kita di bumi ini. Mari kita juga memperkuat ikatan tali persaudaraan kita, karena kebersamaan adalah kekuatan kita!

Untuk Mengenal Tuhan…

Kisah Para Rasul 13:22 ”… Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku…”

Ribuan tahun sesudah Daud hidup di bumi ini, kita masih terinspirasi oleh anak gembala yang menjadi raja ini yang dijuluki ”seorang yang berkenan di hati Tuhan”. Daud mempunyai hubungan yang demikian intim dengan Tuhan sehingga melampaui hubungan antara pencipta-yang dicipta. Mazmur yang ditulis Daud memperlihatkan pada kita bahwa ia mengejar, menginginkan dan membutuhkan Tuhan. Tak dapat disangkal betapa banyak ia mengenal dan memahami Tuhan dan jalanNya.

Sebagai anggota keluarga Allah, Tuhan memanggil kita untuk mengasihi Dia, yang terutama dan terpenting, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan pikiran kita (Lukas 10:27). Untuk mengasihi Tuhan, kita harus mengenal Tuhan. Bukan sekedar mengenal Dia, tapi mengenal Dia secara pribadi dan sepenuh hati sehingga kita dekat dengan Dia. Hubungan Daud dengan Tuhan merupakan inspirasi bagi kita semua. Ia begitu ingin mengenal Tuhan melebihi apapun. Ia menggunakan kata-kata seperti ingin, haus, dahaga, di mazmur-mazmurnya.

Kita dipanggil Tuhan untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus (2 Petrus 3:18). Mengenal Tuhan adalah sebuah perjalanan dan sebuah proses karena siapakah di antara kita dapat mengatakan bahwa kita telah cukup mengenal Tuhan? Hal ini tidak terjadi instan ataupun otomatis, tetapi sebuah pengejaran seumur hidup kita.

Sebagai jemaat yang berkomitmen untuk mengenal Tuhan, semoga kita menginginkan untuk semakin dekat dengan Dia. Alkitab berkata ”… marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28). Ibadah kita kepada Tuhan harus sedemikian rupa sehingga berkenan bagi Dia. Bila kita beribadah, Tuhan melihat melampaui kata-kata dan nyanyian kita untuk melihat sikap hati kita. Tuhan menganugerahi kita emosi supaya kita dapat menyembah Dia dengan perasaan yang dalam.

Bila kita berkumpul bersama untuk memecahkan roti dan minum anggur, mari kita melakukannya dengan hati yang ingin mengerti lebih dalam betapa dalamnya kasih dan pengorbananNya untuk kita. Kita adalah mahluk yang sibuk dan mudah teralih perhatiannya dan Tuhan tahu itu. Ia memerintahkan komuni supaya kita secara konsisten dapat meluruskan hati dan pikiran kita kembali dan tak pernah melupakan kasih karunia dan belas kasihNya.

Bila kita berkumpul untuk mendapat pengajaran Alkitab yang lebih dalam, mari kita bersyukur untuk isi hati Tuhan – yaitu FirmanNya sendiri. Benarlah betapa dalam dan kayanya Firman Tuhan itu (Roma 11:13) dan FirmanNya tetap selama-lamanya. Betapa pentingnya untuk kita mengambil pelajaran-pelajaran alkitabiah ini secara serius jika kita memang ingin semakin mengenal Dia dan jalanNya.
Terakhir tapi bukan penghabisan, apa yang dapat menggantikan kesetiaan pribadi kita kepada Tuhan? Pada akhirnya terserah pada pilihan kita seberapa ingin dekatnya kita kepada Tuhan. Seperti hubungan manapun, butuh kemauan, waktu dan energi untuk membentuk hubungan yang dalam dan intim dengan Tuhan. Mendekat kepada FirmanNya harus menjadi hal terpenting bagi kita setiap hari saat kita menjalani hidup dengan ”pelita bagi kakiku” (Mazmur 119:105). Tuhan juga ingin kita mencurahkan hati kita kepada Dia setiap hari di dalam doa karena Ia juga peduli pada perasaan kita. Selalu mendekatkan diri di dalam hadirat Tuhan akan mengingatkan kita bahwa Tuhan itu selalu dekat (Fil 4:4-6).

Untuk meluangkan waktu, energi dan upaya untuk mengenal Tuhan ialah menginvestasikan sesuatu yang bernilai kekal. Daud punya banyak karunia dan kekuatan lain – ia juga dikenal karena kekuatan fisik dan kegagahannya sebagai prajurit dan raja – tapi lebih dari semuanya itu, ia dikenal sebagai seorang yang mempersembahkan kesetiaan kasih yang paling murni kepada Tuhan.

Dan Membuat Tuhan Dikenal.

Lukas 15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Apapun versi Alkitab yang kita buka, ketika Lukas 15 dibaca, kita melihat sebuah kebenaran yang tak dapat disangkal: bahwa meskipun seseorang telah meninggalkan Tuhan, Ia tetap menyambut mereka kembali dengan tangan terbuka lebar! Ayat di atas memperlihatkan belas kasihNya dan hasratNya. Dan penerima kasih yang luar biasa ini? Kita! Ia menyambut kita kembali, sebagai keturunanNya, dengan air mata, tawa, ciuman hangat dan pelukan – seperti reuni sebuah hubungan yang telah hancur!

Ketika kita dibantu keluar dari air baptisan – ayat tersebut menggambarkan kita. Pada saat kita tidak tahu jalan lain, pilihan lain, bukankah baik kita mengenal Tuhan yang tidak pernah menyerah atas diri kita? Kita merasakan rasa syukur yang dalam karena kita tahu telah disatukan kembali dengan Bapa pengasih kita. Adalah sukacita yang sulit digambarkan dengan kata-kata karena ini adalah sukacita saat kita kembali ke rumah.

Hati Tuhanlah yang diperlihatkan oleh Alkitab. Sejak penciptaan manusia, Alkitab membawa kita melewati sejarah bangsa Israel yang penuh dengan perbudakan manusia, petualangan, tindakan kepahlawanan, pengkhianatan, pembunuhan dan semangat hati. Namun kita takkan temukan dimanapun sosok Tuhan yang sangat intens menginginkan hubungan dengan manusia.

Tuhan ingin semua orang diselamatkan (2 Timotius 1:4). Kita adalah alat yang dipilih, dimana melalui kita, hatiNya untuk jiwa-jiwa yang hilang dapat dikenal supaya mereka datang mengenal kebenaran. Namun kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa keinginan Tuhan harus menjadi keinginann kita. Semua hal yang telah Tuhan perbuat untuk manusia telah ditujukan kepada satu tujuan tunggal yaitu menjadikan diriNya dikenal oleh mereka. Di Lukas 15, si anak sulung menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Bapanya tapi ia tidak pernah mengerti hati Bapanya. Ia melayani tapi dengan kepahitan. Ia seharusnya belajar untuk melayani ayahnya dengan gembira dan hati yang tulus. Contohannya mengingatkan kita untuk belajar sesuatu dari sana.

Menjadikan Tuhan dikenal jiwa-jiwa yang hilang di sekitar kita bukan tentang upaya kita mencari jalan ke surga. Tapi ini tentang menjadi garam dan terang dunia. Tak ada yang perlu ditakutkan, tak ada yang bisa membuat kita malu dan ini bukan urusan tentang agama. Menjadikan Tuhan dikenal ialah menyejajarkan hati kita dengan hatiNya. Kita menjadi mataNya yang menjelajah ke sudut-sudut bumi, mencari anak-anak yang hilang yang siap untuk kembali ke rumah. Menjadikan Tuhan dikenal ialah tentang melihat Bapa melompat kegirangan saat Ia melihat anak-anak yang dulu mati telah bangkit kembali. Menjadikan Tuhan dikenal adalah hati Dia yang menciptakan kita.

Copyright 2014. Gereja Kristus Di Indonesia. All Rights Reserved.
This page was loaded in 1.511 seconds.