Sheila Jones – Nashville, USA – “Ketika Orang Tua Kita Semakin Menua”

Posted in GKDI HotNews, Kabar Baik Internasional

care-for-elderly-parents-gkdi-2

Pergumulan ini nyata. Menyakitkan memang. Membingungkan iya. Orang tua kita lah yang melahirkan kita dan merawat kita bertahun-tahun. Dari mengganti popok kita hingga menyekolahkan kita sampai universitas. Dan sekarang mereka membutuhkan kita untuk merawat mereka. Sepertinya tidak benar ketika pertama kali kamu menolong ayahmu berpakaian atau ibumu duduk di toilet. Bukankah hal-hal tersebut yang seharusnya dilakukan mereka untuk kita? Sekarang peran ini membalik dunia kita secara emosional.

Bagaimana kita menghormati hak orang tua kita untuk memilih pilihan mereka sendiri dan memastikan mereka berada di dalam kondisi yang aman? Bagaimana meyakinkan mereka berhenti mengendarai mobil ketika itu sudah tidak aman bagi mereka dan orang lain? Adakah satu titik di mana kita harus mengambil alih kendali hidup mereka ketika mereka tidak menginginkannya? Dapatkah kita menahan rasa bersalah ketika kita memperbolehkan mereka membuat keputusan hidup yang tidak baik untuk mereka? Bagaimana jika mereka hidup ratusan mil dari kita? Apakah harus ada yang pindah?

Di bukunya yang mendukung orang tua yang menua, Another Country, Mary Pipher membuat pernyataan ini:

“Orang dewasa selalu kuatir tentang orang tua yang menua namun situasi kami ini unik. Tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang hidup sangat jauh dari orang tua yang mereka cintai. Tidak pernah sebelumnya orang tua hidup begitu sangat tua.

Tanya murid-murid Yesus, bagaimana kita menghadapi orang tua kita yang menua? Pertanyaan spesifik yang dapat kita tanyakan bervariasi tergantung orang tua yang kita ingin tolong. Bersyukurnya, Firman Tuhan memberikan kita prinsip-prinsip dasar yang dapat menolong kita dalam situasi tersebut.

Prinsip Alkitab

Hormati dan Junjung Tinggi Orang Tua Kita

“Hormatilah ayahmu dan ibumu”—ini adalah perintah pertama yang diikuti janji—“Agar panjang umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepadamu.” (Ephesians 6:2-3, Exodus 20:12)

Dengarkan ayahmu, yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. (Amsal 23:22)

Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah Tuhan (Imamat 19:32)

Saat kita masih anak-anak, Tuhan memerintahkan kita untuk menghargai dan menghormati orang tua kita. Bukan karena mereka sempurna. Melainkan karena mereka “pantas” untuk itu. Bukan juga karena itu adalah hal yang benar yang harus dilakukan. Kita menghormati dan menghargai orang tua kita karena hal itu juga berarti kita menghargai dan menghormati Bapa kita yang di Sorga. (Lihat juga Amsal 17:6, Amsal 23:22, Maleakhi 1:6, Matius 19:9.)

Di zaman kita sekarang ini, ide membesarkan anak dengan kehadiran orang tua kita sudah lama hilang. Orang-orang yang lebih tua tidak ditaruh tinggi pada tempat yang seharusnya mereka berada. Mereka memiliki segudang pengalaman yang kita bisa belajar. Mereka pantas menerima hormat yang mereka layak dapatkan. Alex Haley berkata “Kematian seorang tua seperti terbakarnya sebuah perpustakaan.” Seberapa jauh kita “pembaca cermat” orang tua kita? Kita perlu mendengarkan mereka. Belajar dari mereka. Berikan mereka perhatian yang fokus.

Dulu, saya bertanya pada nenek saya. Ia hidup di masa yang saya bisa saksikan di TV dan film bioskop. Ia adalah gambaran Laura Ingalls Wilder dari Little House on the Prairie. Saya suka mendengar ceritanya, menemukan sesuatu yang baru tentang hidupnya, mengetahui apakah ia menerima satupun input saat hari pernikahannya (ia tidak menerimanya), dan berbagi tentang kesukaan dan kesedihan selama waktu-waktu itu. Kenangan itu sangat berharga bagi saya, dan saya sangat ingin membagikannya pada anak-anak perempuan saya.

Memiliki ketertarikan semacam ini pada orang tua dan nenek kita menunjukkan bagaimana kita menghormati mereka. Mereka tahu kita sibuk, dan mereka memuji ketahanan kita untuk fokus pada mereka dan mengetahui mereka lebih baik lagi.

Membawa Sukacita Pada Orang Tua Kita

Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; Yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. (Amsal 23:24)

Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. (Amsal 10:1)

Ketika kita membawa sukacita pada orang tua kita, kita membawa sukacita pada diri kita sendiri. Semakin dekat kita pada Tuhan, semakin terlengkapi kita untuk membawa sukacita pada orang tua kita. Saya kehilangan mama saya sendiri 14 tahun yang lalu bulan ini. Kemarin saya mencari beberapa info untuk dipakai pada bab ini, dan saya menemukan surat yang Ibu saya tulis pada saya setahun sebelum ia dipanggil Tuhan. Ini mengisi hati saya dengan sukacita karena saya tahu bahwa saya adalah sebuah sumber sukacita baginya. Ia menulis

Saya telah membersihkan sedikit, dan ke mana saja saya melihat, saya menemukan begitu banyak barang di rumah ini yang mengingatkan saya tentang perhatianmu dan kasihmu – kotak surat dengan foto ayah, foto anak gadismu yang cantik, bingkai foto seratus tahun keluarga kita, video rekaman dirimu dan Tom, rekaman dan catatan yang isinya tentang diri kita bersama-sama, gaun mawar cantik yang saya pakai kemarin dengan rok abu-abu dan rompi. Perhatianmu pada kesehatan dan kebiasaan kami, banyak hal yang kamu lakukan mengingatkan kami bahwa seberapa sibuknya pun kalian dengan hidup kalian, selalu ada ruang untuk perhatian, kasih dan kebaikan terhadap ayah dan ibumu. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan karena memberikan kami berdua anak perempuan yang mengasihi dan menyayangi kami dan dua menantu yang juga sangat mengasihi kami.

Ibu saya adalah orang yang sangat penuh syukur dan penuh pengampunan. Saya berharap saya telah melakukan lebih banyak untuk menunjukkan kasih saya, namun bersyukurnya ia pun telah merasakan itu.

Pasti ada saat-saat di mana, sekeras apapun kita mencoba, kita sulit untuk membawa sukacita pada orang tua kita. Karena masalah mereka sendiri atau kepahitan, beberapa orang tua tidak mau membiarkan dirinya disenangkan. Dan mereka secara teratur berusaha membuat anak-anaknya merasa bersalah. Dalam kondisi seperti ini, kita harus menemukan kedamaian kita untuk taat pada anjuran Paulus  di Roma 12:18 “jika memungkinkan, jika itu bergantung sepenuhnya padamu, hiduplah dengan damai dengan semua orang.” Jika hati kita ingin membawa sukactia pada orang tua kita, kita harus sadar bahwa Tuhan “memperhitungkan itu sebagai kebenaran” (Roma 4:3). Di dalam Tuhan tinggal damai kita, bukan pada kemampuan kita menyenangkan orang tua kita.

Banyak waktu saya tidak dapat membawa sukacita pada ayah saya. Alasannya adalah ia menderita Alzheimer di mana ia memiliki halusinasi yang menyiksa. Sosok dengan jubah hitam dan topi datang dan keluar dari tembok kamarnya. Suatu saat, mereka menariknya di atas tempat tidur dan menyiksanya. Kejadian ini terjadi padanya senyata kejadian bagaimana pengalaman saya melihatnya. Saya tidak dapat menghilangkan mereka dan memberikan ayah saya ketenangan yang saya sangat ingin berikan. Tetapi saya tetap mencoba melakukan apapun yang saya bisa: datang secara konsisten, membawanya keluar rumah dengan kursi roda, memberikan rekaman lagu-lagu rohani, mengawasi pemberian obat-obatnya, membawa cucu-cucunya untuk datang melihatnya, memeluknya, dan menciumnya. Hatiku kuarahkan untuk membawa sukacita walaupun hatinya tidak dapat menerima itu.

Memenuhi Kebutuhan Orang Tua Kita

Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tuan dan nenek mereka, karena itulah nyang berkenan kepada Allah. (Timotius 5:3-4)

Jika ada seseorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. (1 Timotius 5:8)

Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda. (1 Timotius 5:16)

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yakobus 1:27)

Ayat-ayat di atas sangat jelas dalam menjelaskan tentang tanggung jawab kita untuk memelihara orang tua kita. Yesus berbicara dengan sangat jelas: jangan menggunakan komitmen kamu kepada Tuhan sebagai alasan untuk tidak mendukung mereka dalam masa tua mereka (Matius 15:1-9). Dalam bahasa abad ke-21 Ia berkata, “Jangan berikan kontribusi misi kamu dan kemudian berkata pada orang tuamu, “Maaf, anda harus meminta makanan pada badan amal. Saya tidak memiliki uang untuk mendukungmu.” atau “Maaf, saya sudah lama tidak menyurati kamu, karena waktu saya habis untuk membaca Alkitab.”

Tantangan untuk murid-murid adalah untuk memelihara kebutuhan orang tua kita dan tetap mencari dahulu Kerajaan Allah sebagai prioritas utama kita. Yesus adalah contohan yang tepat untuk area ini, seperti Ia juga adalah contohan di area lainnya. Di tengah kesakitannya yang menyiksa, ia meminta teman baik-Nya, Yohanes, untuk memelihara ibunya, Maria. Ia mengambil hatinya Tuhan dengan cara memelihara orang tua ketika mereka menua.

Tetapi Yesus yang sama tidak mengijinkan keluarga-Nya mengalihkan Dia dari komitmen kepada Tuhan atau misi-Nya:

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: ”Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudar-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Matius 12:46-50)

Yesus tidak akan mengijinkan hubungannya dengan keluarganya, bahkan ibunya yang janda dan menua, menjauhkannya dari melakukan kehendak Tuhan. Ini menghancurkan ibunya ketika melihat anaknya disiksa sampai mati di kayu salib. Pasti hati ibunya akan tenang jika Ia turun dari salib dan pulang dengannya. Tapi, Ia tidak dapat memberikan ibunya keinginannya itu. Ia dapat, bagaimana pun juga, memenuhi kebutuhannya ketika Ia menaati Firman Tuhan. Maka, Ia benar ketika ia mengatakan hal ini dalam kalimat-Nya tentang mengikut Tuhan secara radikal:

Ketika Yesus berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, karena mereka adalah penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Matius 4:18-22)

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37)

“Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat 1  dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Matius 19:29)

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku! “Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” (Lukas 9:59-60)

Yesus, yang melakukan segala sesuatunya dengan baik, memiliki keseimbangan yang sempurna karena Ia mencari dahulu Kerajaan Allah. Kita harus percaya bahwa Ia akan menolong kita menemukan keseimbangan tersebut melalui pergumulan yang jujur dan doa. Kita juga dapat mencari dahulu Kerajaan Allah dan mengambil tanggung jawab untuk memelihara orang tua kita.

Aplikasi Dalam Kehidupan Kita

Kita semua harus datang pada kenyataan yang jelas bahwa orang tua kita menua dan kita memiliki perjalanan bersama mereka. Bonnie Raitt menyanyikan hal ini dengan lagunya “Nick of Time”:

Saya melihat orang tuaku, mereka semakin menua, saya melihat tubuh mereka berubah. Saya tahu mereka juga melihat hal yang sama di dalam diriku, dan itu membuat kami merasa aneh…

Dalam perjalanan semakin dewasa, kita “merasa aneh.” Kita belum pernah berada di sini sebelumnya. Kita memiliki keputusan untuk dibuat. Banyak di antaranya akan membingungkan tidak memuaskan, menyakitkan hati, dan tidak terpikirkan. Kita akan mungkin akan membuat keputusan-keputusan

  • Pindah ke negara lain, membawa anak-anak kita keluar dari sekolah dan dari teman-temannya, karena orang tua kita tidak akan tinggal di area kita atau tidak.
  • Tetap tinggal dengan orang tua kita selama krisis sedangkan anak-anak kita berada jauh di rumah, membutuhkan kita, atau tidak.
  • Menggunakan pengacara untuk membantu orang tua kita mendapatkan “fasilitas”nya, atau setidaknya beberapa di antaranya atau tidak.
  • Menaruh orang tua kita di panti jompo karena kita tidak dapat memberikan tunjangan kesehatan yang mereka butuhkan atau tidak.
  • Menginjinkan protokol suntik mati atau tidak.

Keputusan Saya

Ibu saya dipanggil Tuhan karena pendarahan pada internal perutnya. Dokter tidak dapat menemukan dari mana pendarahannya berasal sehingga mereka tidak dapat menghentikannya. Sebulan sebelum ia meninggal, kami baru saja pindah dengan jarak 2,5 jam dari mereka. Sampai saat itu, jarak yang memisahkan kami adalah beberapa negara bagian. Kematian ibu kami meninggalkan banyak keputusan. Adik perempuan saya satu-satunya, Emily, tinggal di negara bagian lain dan menolong saya membuat keputusan yang besar. Namun, ia jelas tidak dapat membuat keputusan untuk sehari-hari.

Baik saya maupun adik perempuan saya menyadari betapa cepat penyakit Alzheimer ayah kami merusak tubuhnya. Ketika ibu meninggal, Ayah kehilangan pegangannya dan semakin tidak bisa konsentrasi. Karena kondisi rumah kami di mana anak-anak remaja perempuan kami sedang bergumul, suami saya juga sedang depresi, saya tidak mungkin menaruh ayah saya juga di sini. Saya harus menjaganya setiap hari atau ia dapat bangun setiap tengah malam, mencari barang yang tidak ada, dan jatuh dari tangga.

Kami mencoba meminta bantuan untuk itu, tapi Ayah terlalu bingung dan disorientasi. Akhirnya, kami harus memindahkan beliau ke fasilitas bagian keperawatan. Saya konsisten menghubungi dia, mengunjungi dia, berbicara dengan dokter dan tenaga medis lainnya. Saya berkata kepada ayah saya, “Kamu selalu merawat saya dengan baik, sekarang saya akan merawat kamu dengan sebaik-baiknya.” Saya benar-benar punya maksud untuk itu dan saya memberi yang terbaik.

Kami pindah ke kota lain untuk berada dalam pelayanan yang menawarkan beberapa penyembuhan dalam kehidupan kami. Tidak hanya situasi dalam keluarga kami yang membutuhkan penyembuhan, namun saya juga sedang dalam kondisi yang mungkin membutuhkan operasi besar. Saya memindahkan ayah menuju sebuah fasilitas di kota yang baru, namun saya tidak puas dengan tempatnya. Saya mengecek tempat lainnya dan memindahkannya ke sana.

Saya menjadi teman kepada kepala perawat, dan ia mencintai ayah saya. Sayangnya, ia kehilangan pekerjaannya. Untungnya, ia diterima bekerja sebagai kepala perawat di fasilitas yang baru di kota sebelah. Saya dan ayah mengikutinya ke sana. Ia adalah pasien pertama, dan semua orang mengenal ayah saya. Tuhan memberkati kita dengan persahabatan yang luar biasa yang memelihara kebutuhan ayah saya.

Sangat jelas untuk kami pindah lagi karena beberapa alasan. Sekarang ke Boston. Ayah tidak lagi mengenal siapa saya. Mata birunya yang indah memandang saya dengan tatapan kosong. Ayah saya tidak ada lagi di sana. Saya kesulitan memindahkannya dari tempat yang sangat dekat dengannya. Jika saya memindahkannya, saya sadar ini akan lebih tentang saya daripada tentang dirinya. Ini hanya untuk memenuhi kesadaran saya sehingga saya dapat berkata saya telah menjadi anak perempuan yang berbakti. Ayah saya lebih baik berada di tempatnya berada sekarang. Berada dengan saya di tempat baru di Boston mungkin tidak menjadi lebih nyaman. Bahkan, ini bisa menjadi traumatis untuknya dengan kondisinya saat ini.

Saya berkomunikasi secara konsisten dengan kepala perawat, saya terbang untuk melihat ayah lebih sering. Saya tidak dapat melakukan hal-hal lainnya. Keluarga saya harus pindah dan saya harus pindah dengan mereka.

Emily dan saya membuat keputusan yang sulit untuk meminta agar jangan ada tabung makanan ditaruh di dalam tubuh ayah saya ketika ia tidak lagi dapat makan. Saat itu, kami ingin perawat memberikan ayah cairan dan membuatnya senyaman mungkin. 4 bulan setelah keluarga saya pindah ke Boston, Emily dan saya bersama-sama dengan ayah ketika akhirnya tubuhnya menyerah pada penyakit. Ia menarik napas terakhirnya. Akhir yang indah. Kami sebenarnya kehilangan ayah kami berbulan-bulan yang lalu. Tubuhnya ditaruh untuk sementara waktu agar kami dapat mengingat siapa dia dulu dan bagaimana kami sangat mencintainya. Kami mengucapkan perpisahan kami yang terakhir pada pria yang lemah lembuh, dan sangat mengasihi yang mengajarkan kami untuk mencintai Tuhan dan orang lain, dan untuk memiliki integritas di setiap situasi. Ia jauh lebih besar dari tubuh kecilnya yang ia tinggali ini. Ia adalah pahlawan, ia adalah ayah kami.

Saya berterima kasih pada Tuhan karena membantu saya melewati waktu-waktu yang sulit ini bersama ibu dan ayah saya. Walaupun saya tidak bergantung pada-Nya secara sadar, Ia dengan penuh kasih berada di sana untuk saya. Dan Ia membantu saya hingga pada akhirnya.

Siklus Kehidupan

Ketika saya menghabiskan waktu, energi, dan kasih untuk memenuhi kebutuhan ayah saya, tanpa sadar, saya sedang mengajarkan anak-anak saya bagaimana suatu hari nanti memenuhi kebutuhan saya. Waktu akan berjalan tanpa henti sampai suatu hari nanti saya yang menjadi orang tua yang menua dan anak-anak saya akan membuat keputusan yang sulit bagaimana mengurus ibu mereka.

generations_gkdi

Satu hal yang saya ingin lakukan adalah menuliskan mereka sebuah surat, memberi tahu mereka harapan-harapan saya. Tom dan saya sudah membuat keputusan bahwa kami tidak mau hidup dengan bantuan alat pernapasan buatan. Kami telah membuat keputusan ini dan saya percaya bahwa anak-anak kami akan mencintai, menghargai, dan ya, mematuhi kami, terikat dengan keinginan kami. Ini akan membebaskan mereka dari perasaan bersalah di saat-saat emosional dan membingungkan.

Satu hal yang saya ingin anak-anak saya tahu adalah jika saya terkena Alzheimer seperti ayah saya, mereka boleh tertawa jika saya mengatakan hal-hal yang lucu. Mereka tahu bahwa saya akan tertawa juga jika saya tahu itu lucu. Saya tidak ingin mereka merasa bersalah karena mendapatkan rasa senang di saat-saat sulit. Ayah saya juga mengatakan hal-hal yang lucu. Emily dan saya tidak menertawakannya dirinya, tapi kami menikmati bersama dirinya. Kami lega dapat tertawa karena pada sebagian besar waktu-waktu kami, kami tidak dapat melihat hal yang lucu di tengah-tengah situasi tersebut. Ada lebih banyak waktu yang menyakitkan dari pada waktu yang menyenangkan.

Cerita tentang Nuh dan anak-anak laki-lakinya di Kejadian 9 mengajarkan kami tentang bagaimana melindungi privasi orang tua kami dan memberikan mereka hormat ketika mereka berada di tengah situasi yang rawan. Nuh meminum anggur dari kebun anggurnya dan berjalan telanjang ke tendanya. Ham datang kepadanya, dan bukannya memberikannya pakaian dan menghormatinya, ia pergi dan memberi tahu kedua saudaranya. Mereka mengambil jubah dan kembali ke tenda dan menutupi ayah mereka.

Kita mungkin tiba di satu titik kehidupan di mana kita harus menolong orang tua kita membersihkan kotoran mereka. Mereka mungkin akan melakukan hal-hal yang aneh yang akan membuat mereka sendiri malu jika mereka sadar dan dalam kondisi sehat. Saat-saat itu, kita perlu melindungi mereka. Kita tidak boleh berbicara secara sembarangan tentang mereka ketika mereka sedang dalam kondisi rawan. Mereka layak menerima hormat kita hingga mereka dipanggil Tuhan. Jika kita memperlakukan orang tua kita seperti ini, anak-anak kita akan belajar memperlakukan kita dengan cara yang sama. Begitulah siklus kehidupan.

Sheila Jones

Boston, USA

(Sekarang Nashville)

Diambil dari Life and Godliness for Everywoman Volume 2 – 2001

Share!
Copyright 2014. Gereja Kristus Di Indonesia. All Rights Reserved.
This page was loaded in 1.624 seconds.