Sejarah GKDI

Church History

Pada tahun 1990, 4 orang Malaysia dan 4 orang Indonesia yang merupakan anggota jemaat Central Christian Church di Singapura dan seorang Indonesia dari Boston – Amerika, pergi meninggalkan kehidupan nyaman mereka di negara maju untuk memulai menanam gereja di Jakarta. Dengan iman dan semangat juang yang tinggi, mereka memulai kebaktian perdana di ruang tamu di sebuah rumah di daerah Jakarta Pusat. Tuhan terus menambahkan jumlah mereka sampai suatu saat, ruangan yang dipakai mereka penuh sehingga mereka harus menyewa sebuah aula di hotel untuk beribadah.  Meskipun pada mulanya kebanyakan orang merasa skeptis dengan gerakan ini karena kebanyakan anggotanya terdiri dari orang-orang muda, namun Tuhan terus bekerja melalui pemimpin-pemimpin yang punya iman dan ketekunan. Tuhan menambahkan jumlah mereka tiap-tiap tahun.

Pada tahun 1992, John Philip Louis dan istrinya, Karen Louis, datang dari Singapura untuk memimpin jemaat dan melatih para pemimpin di Jakarta, dan tidak hampir setahun, jemaat bertumbuh menjadi 280 orang. Pada awalnya, jemaat bernaung di bawah Gereja Elim Tabernakel di daerah Jakarta Pusat dan nama yang diberikan adalah Jemaat Kristus Penginjilan Nusantara (kata Jemaat menunjukkan bahwa dia bernaung dalam sebuah gereja). Pada tahun 1993, misi pertama ke Surabaya dikirim dan dipimpin oleh pasangan muda, Budi dan Liphin Kusmartono.

Pada tahun 1994, seiring dengan Proklamasi Penginjilan di seluruh dunia untuk membawa gereja ke semua bangsa dalam 6 tahun, John Louis, dalam seminar misi tersebut, memperkenalkan Rencana Penginjilan Nusantara (OPN) untuk Indonesia. Misi dikirim berturut-turut ke kota-kota utama di pulau-pulau besar di Indonesia. Pada tahun 1994, 12 orang yang dipimpin oleh Johnson dan Alin Sibuea dikirim untuk memulai gereja di Medan, lalu Manado (1995) dipimpin oleh Donald dan Monica Warouw, Denpasar oleh Hocky and Sharon Purwanto, Pontianak oleh Muksin dan Lily, serta Bandung oleh Sahat Hutagalung dan Lily Djohan (1996).

Menjelang akhir tahun 1996, Harliem dan Vania Salim ditunjuk untuk memimpin Indonesia sementara John dan Karen Louis pindah untuk menguatkan gereja-gereja di Australia. Pada tahun 1998, misi yang dipimpin oleh Agustinus dan Silvi dikirim ke Jayapura, sebagai titik akhir Rencana Penginjilan Nusantara (OPN) tahap pertama (menginjili kota-kota utama di pulau-pulau terbesar: Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya).

Misi berikutnya dimulai di kota-kota besar lainnya, seperti Batam (2000), Semarang dan Yogyakarta (2002). Karena kasih karunia Tuhan, Jemaat Kristus Penginjilan Nusantara dapat berdiri sendiri menjadi institusi yang sah di mata hukum dan diakui pemerintah pada tahun 2001, dan berganti nama menjadi Gereja Kristus Di Indonesia (GKDI). Peter Smith, seorang pengajar Bahasa Inggris dari Milwaukee, Amerika, berperan penting dalam hal ini. Beliau datang untuk membantu tim misi didorong oleh kasih yang tulus untuk Bangsa Indonesia.

Selain melayani dalam kerohanian dan konseling keluarga, GKDI juga berkontribusi dan memberkati masyarakat Kristiani, seperti mendukung HOPE Worldwide Indonesia dan Haggai Insitute. HOPE Worldwide Indonesia adalah sebuah NGO (Non Governmental Organization) atau LSM yang sudah terdaftar di badan PBB. Anggota jemaat GKDI terlibat aktif bersama HOPEWW untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial di seluruh Indonesia, seperti: mengadakan aksi donor darah, Walkathon (jalan sehat massal), membantu korban bencana dan konseling pemulihan bencana, dan masih banyak lagi. Mereka tidak hanya mendukung secara finansial, tetapi juga mengambil waktu di luar jam kerja untuk melayani di daerah terpencil dan menolong mereka yang membutuhkan, iman yang ditunjukkan dengan perbuatan seperti yang kita baca di Kitab Yakobus. 

Copyright 2014. Gereja Kristus Di Indonesia. All Rights Reserved.
This page was loaded in 1.268 seconds.